Sabtu, 14 November 2009

Mengedepankan Islam Sebagai Jalan Tengah

Mengedepankan Islam Sebagai Jalan Tengah
Sabtu, 14 November 2009, 08:00:02 WIB

Laporan: A. Supardi Adiwidjaya

Den Haag, RMOL. Setelah mengikuti Sidang Umum World Islamic People’s Leadership/WIPL (Kepemimpinan Rakyat Islam Sedunia/KRIS), dalam perjalanan pulang kembali ke Indonesia, Prof Dr Din Syamsuddin tiba di Schiphol (Amsterdam) pada hari Sabtu sore (7/11).

Dan pada hari Minggu sore (8/11) lalu beberapa jam sebelum keberangkatannya kembali ke tanah air, Prof Dr Din Syamsuddin berkesempatan bersilaturahmi dengan masyarakat Indonesia di aula KBRI Den Haag. Hadir dalam pertemuan tersebut - Umar Hadi, Wakil Kepala Perwakilan RI (Wakapri) untuk Kerajaan Belanda, yang baru kurang lebih seminggu tiba di Belanda.

“Saya singgah di Belanda dengan tiga maksud sekaligus,” ujar Din Syamsuddin dalam acara silaturahmi tersebut. Menurutnya, pertama, untuk ikut menjadi tamu pertama dari sahabatnya Umar Hadi, Wakapri yang baru untuk Kerajaan Belanda.

Sebelum menjabat Wakapri, Umar Hadi adalah Direktur Diplomasi Publik Deplu RI, yang sangat aktif mengajar ormas-ormas mengenai masalah-masalah keagamaan untuk ikut mengembangkan diplomasi Indonesia di luar negeri. Din Syamsuddin sempat hadir dalam acara peluncuran buku karya Umar Hadi berjudul “Islam Indonesia: A to Z Basic Reference” yang diterbitkan Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), yang digelar di Deplu RI pada bulan Oktober 2009 lalu.

Yang kedua, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini sudah lama berniat berkunjung ke Den Haag untuk bertemu dan mendoakan sahabat baiknya – Surya Alinegara, yang saat ini sedang menderita sakit. Surya Alinegara adalah mantan Ketua Pengurus Cabang Intimewa Muhammadiyah (PCIM) di Belanda. Dan yang ketiga, ingin bersilaturahmi dengan masyarakat Indonesia di Belanda, termasuk para mahasiswa.

Ditanya mengenai Sidang Umum KRIS yang ke-5 di Tripoli, dalam bincang-bincang singkat dengan Rakyat Merdeka Online, Din Syamsudin mengatakan, delegasi Indonesia ke General Assembly World Islamic People’s Leadership cukup banyak, sekitar 16 orang tokoh-tokoh dari ormas Islam Indonesia beserta sekitar enam ratusan orang dari seluruh dunia mewakili organisasi-organisasi Islam dari negeri masing-masing. “Saya kebetulan di KRIS menjabat sebagai Wakil Sekjen mewakili benua Asia,” jelas Din Syamsuddin.

Menurut Din Syamsuddin, dalam Sidang Umum KRIS tersebut dibicarakan tentang strategi peradaban dunia Islam dalam menghadapi tantangan global dunia yang tengah berubah, yang masih menyisakan masalah-masalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kesenjangan dan termasuk pandemi yang merajalela di dunia sekarang ini. Tentu sebagai dunia yang mempunyai potensi terutama dari sudut jumlah penduduk dunia yang beragama Islam 1,6 milyar, yang harus menunjukkan rasa tanggung jawab dengan program-program yang riel untuk mengatasi masalah-masalah umat manusia tadi.

Dalam pertemuan di Tripoli itu, kata Din Syamsuddin, juga dibicarakan bagaimana dunia Islam menyambut gelagat dunia sekarang ke arah dialog dan kerjasama antara agama, antara peradaban, termasuk juga obsesi Presiden AS Barack Obama yang ingin menciptakan hubungan baru dengan dunia Islam atas dasar saling menghargai, memahami dan kepentingan bersama. Ini juga menjadi singgungan dalam pertemuan tadi itu. Tapi jauh lebih lebih penting lagi dari pembahasan di sana adalah bagaimana umat Islam, dunia Islam, melakukan revitalisasi agar mandiri dalam bidang pendidikan, dalam bidang ekonomi.

Karena masalah utama dalam dunia Islam adalah kesenjangan antara idealitas Islam, potensi dunia Islam, sumber daya alam, sumber daya nilai, tapi dengan kenyataan kehidupan dunia Islam yang masih rendah kualitas infrastrukturnya: sosial, pendidikan, ekonomi, maka program-program yang bersifat internal ini yang harus dibicarakan.

“Saya diminta memberikan sambutan pada upacara pembukaan sebagai Wakil Sekjen. Dan pada sesi tertentu saya diminta untuk berceramah tentang pemuda Islam antara liberal dan radikal dan bagaimana upaya-upaya untuk mengatasinya,” ujar Din Syamsuddin. Saya katakan, lanjutnya, sebetulnya di tengah itu juga ada kelompok ketiga, yaitu kelompok yang lebih besar yang teguh berpegang kepada agama Islam dan mengedepankan Islam yang sesungguhnya adalah jalan tengah. Dan ini harus ditampilkan ke depan, jadi Islam sebagai jalan tengah yang tidak terjebak kepada dua ekstrimitas. Ini perlu dilakukan mainstreaming, dijadikan sebagai arus utama tentu lewat pendidikan dan oleh karena itu perlu organisasi pendidikan di dunia Islam, baik di sekolah, maupun di masyarakat dan keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar